URGENSI PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Lahirnya modernisasi atau pembaharuan di sebuah tempat akan selalu beriringan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang saat itu. Modernisasi atau pembaharuan bisa diartikan apa saja yang merupakan upaya atau usaha perbaikan keadaan baik dari segi cara, konsep, dan serangkaian metode yang bisa diterapkan dalam rangka menghantarkan keadaan yang lebih baik. Begitupun dengan yang terjadi pada islam.
Dunia Islam kini mengalami banyak sekali perubahan-perubahan dalam segala bidang termasuk dari segi pendidikan. Hal ini berkaitan dengan pembaharuan dan pola pendidikan yang ada didalamnya. Baik dari segi materi, metode pengajaran, konsep dan sarana yang digunakan ketika proses belajar mengajar berlangsung. Dari perpindahan yang serba tradisional menuju kemoderenan dan bersifat terbuka dalam hal apapun guna menerima sesuatu yang baru dan semua itu berkaitan dengan kemajuan-kemajuan yang ada didalamnya. Dan dalam makalah ini akan dibahas yang berkaitan dengan hal-hal yang melatar belakangi pembaharuan pendidikan islam dan hal-hal yang melatarbelakangi pembaharuan pendidikan islam.

B. Identifikasi Masalah
Dalam makalah ini kami memnemukan beberapa identifikasi masalah, yaitu sebagai berikut :
1. Pengertian Pembaharuan Pendidikan Islam
2. Latar Belakang Pembaharuan Pendidikan Islam
3. Tujuan Pendidikan Islam
4. Pembaharuan Pendidikan di Indonesia
5. Gontor, Pembaharu Pendidikan Islam di Indonesia

BAB Il
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pembaharuan Pendidikan Islam
Pembaharuan pendidikan islam merupakan kalimat majemuk yang terdiri dari tiga kata, yaitu ; pembaharuan, pendidikan dan islam. Maka sebelum kita membahas dan mengetahui lebih dalam mengenai makna pembaharuan pendidikan islam, alangkah baiknya kita bahas satu per satu pengertian yang terkandung dalam pembaharuan pendidikan islam.
1. Pengertian Pembaharuan
Pembaharuan atau Tajdid dalam bahasa keagamaan merupakan aktifitas dan kegiatan yang sangat alami, sesuatu yang sering dan mesti terjadi dalam kehidupan manusia, sebab kehidupanmanusia mempunyai permulaan dan penghabisan; Sesuatu yang telah berkembang akanmengalami perubahan, dan perubahan tersebut memerlukan upaya perbaikan untuk memperolehkinerja dan efektifitas bagi suatu ajaran itu sendiri dalam menyahuti perkembangan jaman.Tajdid berasal dari akar kata Arab “JADADA” yang dari kata tersebut terdapat kata “JADID”yang berarti baru. Dalam beberapa teks, kata-kata jadada mempunyai tiga pengertian yang berbeda tetapi mempunyai makna yang hampir sama, yaitu :
a. Jadid (Baru) artinya menjadikan sesuati itu baru.
b. Al Qath’u (Putus) artinya menjadikan sesuatu itu tidak lagi mempunyai hubungan
c. Roj’i (Kembali) artinya menjadikan sesuatu kembali pada asal dan orisinalitasnya.
Oleh karena itu pembaharuan merupakan sebuah paradigma dan perubahan baru, baik dari segi pemikiran, sarana dan prasarana, kegiatan dan lain-lain yang merubah dari yang tradisional (lama) kearah yang modern (baru).

2. Pengertian Pendidikan
Pendidikan merupakan berbagai usaha yang dilakukan oleh seseorang (pendidik) terhadap seseorang (anak didik) agar tercapai perkembangan maksimal yang positif.
Marimba (1989:19) menyatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.
Dengan kata lain bahwa, pendidikan merupakan sebuah proses bimbingan atau pembelajaran yang dilakukan oleh seorang pendidik (guru) kepada anak didik (murid) yang belum dewasa menjadi dewasa.
3. Pengertian Islam
Islam merupakan ajaran yang telah dibawa oleh utusan Allah swt yaitu Nabi Muhammad saw, untuk semua umat manusia. Islam merupakan satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah swt, yang tidak akan Allah swt menerima agama selain agama Islam. Allah swt, berfirman :
             
Artinya :
“Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”.(QS.3:85)

Dari ketiga pengertian diatas maka kita dapat menyimpulkan bahwa pengertian pembaharuan pendidikan islam adalah sebagai suatu upaya / usaha dalam melakukan proses modernisasi / pembaharuan pendidikan dari sesuatu hal yang lama (tradisional) kearah yang baru (modern) sesuai dengan perkembangan zaman yang sejalan denang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan syari’at dan nilai-nilai islam
B. Latar Belakang Pembaharuan Pendidikan Islam
Pendidikan merupakan salah satu kunci seorang muslim untuk senantiasa mendekatkan diri kepada sang maha pencipta, yaitu Allah swt. Sebagainama yang telah kita ketahui bahwasanya wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah swt, yaitu perintah untuk menuntut ilmu. Firman Allah swt :
          
Artinya :
“(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, (2)Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. (QS.Al-alaq :1-2)

Dari ayat di atas maka Allah swt, telah memerintahkan kepada umat manusia melalui Rasulullah saw, untuk senantiasa belajar guna untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt, dan senantiasa selalu mendekatkan diri kepada-Nya.
Ilmu pengetahuan pada zaman globalisasi seperti saat ini perkembangannya sangat cepat, dari mulai pemikiran, ilmu pendidikan dan teknologi (IPTEK), budaya, dan sains-sains yang telah maju dan banyak berkembang. Untuk itu diperlukanlah pembaharuan yang akan mengejar perkembangan zaman, dalam hal ini ialah pendidikan islam. Kendati pun demikian, untuk melakukan sebuah pembaharuan dalam bidang pendidikan islam bukan berarti merubah konsep awal pendidikan islam, yaitu nilai-nilai tauhid dalam ilmu pendidikan.
Seperti pembaharuan pendidikan islam yang dilakukan oleh Kemal Attaruk pemimpin Turki yang melakukan pembaharuan di Negara Turki pada setiap bidang salah satunya pada bidang pendidikan. Kemal Attaruk merubah pembaharuan dalam bidang pendidikan melalui proses sekularisme, begitu pun dalam bidang-bidang yang lain. Langkah-langkah pembaharuan dalam bidang pendidikan adalah pada tanggal 7 Pebruari 1942 dikeluarkan dekrit yang melepaskan semua unsur keagamaan dari sekolah-sekolah asing. Sebulan kemudian , tanggal 1 Maret 1942 diterima ide pernyataan di bawah satu atap yang berada di bawah kementrian pendidikan yang berarti penghapusan semua bentuk pengawasan yang dilakukan oleh badan-badan Islam terhadap sekolah-sekolah.
Pembaharuan yang dilakukan oleh Kemal Attaruk merupaka pembaharuan yang sifatnya negative. Pemikiran-pemikirannya yang sekular berakibat buruk karena menanggalkan nilai-nilai dan syari’at islam dalam kenegaraan. Sehingga islam bukan lagi dianggap sebagai pedoman hidup, akan tetapi islam dianggap sebagai sebuah agama semata.
Pembaharuan pendidikan juga pernah terjadi di india pada masa kepemimpinan Ahmad Khan. Beliau bercita-cita agar india bebas dari pengaruh hindu dan setelah 90 tahun kemudian lahirlah Negara Republik Islam Pakistan.
Pembaharuan pendidikan di India pada masa kepemimpinan Ahmad Khan tidak melakukan sekularisme dalam bidang pendidikan, akan tetapi menumbuhkan dan memajukan ilmu pendidikan agar tidak tertinggal oleh zaman, seperti meninggatkan bahasa dan membuat sekolah-sekolah islam dan perguruan tinggi seperti di inggris akan tetapi tidak mengabaikan pendidikan agama.
Pembaharuan pendidikan islam adalah tanggung jawab kita bersama sebagai seorang muslim. Karena pembaharuan tidak akan berubah secara sendirinya. Firman Allah swt :
                             •         
Artinya :
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. 13 : 11)

Kata pembaharuan juga sering diartikan modernisasi. Maka pembaharuan pendidikan islam merupakan sebuah hal yang urgen yang tidak boleh ditinggalkan. Semakin berkembangnya zaman semakin sering pula pembaharuan yang harus dilakukan untuk menjaga eksistensi agar tidak tertinggal dan terjajah oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Modernisasi adalah sebuah program aksi untuk memberdayakan umat Islam agar dapat berkembang mengikuti alur zaman. Program tersebut tidak berarti menjadikan Islam sebagai sumber nilai yang harus mengikuti perkembangan zaman itu sendiri, akan tetapi lebih merupakan usaha untuk mengkaji sumber nilai tersebut agar dapat memberi warna. Menurut Dr. Harun Nasution, modernisasi (Modern/Modernisme) adalalah pikiran, aliran, usahadan gerakan untuk mengubah paham, adat istiadat, institusi lama dsb sesuai dengan pendapat dan keadaan yang berkembang akibat kemajuan Ilmu Pengetahuan dan teknologi.
Secara garis besar, ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya proses pembaharuan pendidikan Islam, yaitu:
Pertama, Faktor kebutuhan pragmatis ummat Islam yang sangat memerlukan satu sistem pendidikan Islam yang betul-betul bisa dijadikan rujukan dalam rangka mencetak manusia-manusia muslim yang berkualitas, bertaqwa, dan beriman kepada Allah.
Kedua, agama Islam sendiri melalui ayat suci al-Qur’an banyak menyuruh atau menganjurkan ummat Islam untuk selalu, berfikir dan bermetaforma : membaca dan menganalisisis sesuatu untuk kemudian bisa diterapkan atau bahkan bisa menciptakan hal yang baru dari apa yang kita lihat.
Kedua faktor di atas sesungguhnya lebih merupakan faktor-faktor yang bisa dilihat secara internal. Adanya kebutuhan ummat akan kemajuan dan perbaikan nasib dirinya bisa dikatakan sebagai faktor penentu timbulnya proses pembaharuan pendidikan dalam Islam. Disamping agama Islam sendiri melalui al-Qur’an –sebagai sumber ajarannya—banyak menganjurkan kepada ummatnya untuk selalu berinovasi, melakukan pembaharuan di segala bidang.
Ketiga, Adanya kontak Islam dengan Barat, juga merupakan faktor terpenting yang bisa kita lihat. Adanya kontak ini paling tidak telah menggugah dan membawa perubahan paradigmatik ummat Islam untuk belajar secara terus menerus kepada Barat, sehingga ketertinggalan-ketertinggalan yang selama ini dirasakan akan bisa terminimalisir.

C. Tujuan Pendidikan Islam
Islam sangat mementingkan pendidikan. Dengan pendidikan yang benar dan berkualitas, individu-individu yang beradab akan terbentuk yang akhirnya memunculkan kehidupan sosial yang bermoral. Sayangnya, sekalipun institusi-institusi pendidikan saat ini memiliki kualitas dan fasilitas, namun institusi-institusi tersebut masih belum memproduksi individu-individu yang beradab. Sebabnya, visi dan misi pendidikan yang mengarah kepada terbentuknya manusia yang beradab, terabaikan dalam tujuan institusi pendidikan. Penekanan kepada pentingnya anak didik supaya hidup dengan nilai-nilai kebaikan, spiritual dan moralitas seperti terabaikan. Bahkan kondisi sebaliknya yang terjadi.
Saat ini, banyak institusi pendidikan telah berubah menjadi industri bisnis, yang memiliki visi dan misi yang pragmatis. Pendidikan diarahkan untuk melahirkan individu-individu pragmatis yang bekerja untuk meraih kesuksesan materi dan profesi sosial yang akan memakmuran diri, perusahaan dan Negara. Pendidikan dipandang secara ekonomis dan dianggap sebagai sebuah investasi. “Gelar” dianggap sebagai tujuan utama, ingin segera dan secepatnya diraih supaya modal yang selama ini dikeluarkan akan menuai keuntungan. Sistem pendidikan seperti ini sekalipun akan memproduksi anak didik yang memiliki status pendidikan yang tinggi, namun status tersebut tidak akan menjadikan mereka sebagai individu-individu yang beradab.
Pendidikan yang bertujuan pragmatis dan ekonomis sebenarnya merupakan pengaruh dari paradigma pendidikan Barat yang sekular. Dalam budaya Barat sekular, tingginya pendidikan seseorang tidak berkorespondensi dengan kebaikan dan kebahagiaan individu yang bersangkutan. Dampak dari hegemoni pendidikan Barat terhadap kaum Muslimin adalah banyaknya dari kalangan Muslim memiliki pendidikan yang tinggi, namun dalam kehidupan nyata, mereka belum menjadi Muslim-Muslim yang baik dan berbahagia. Masih ada kesenjangan antara tingginya gelar pendidikan yang diraih dengan rendahnya moral serta akhlak kehidupan Muslim. Ini terjadi disebabkan visi dan misi pendidikan yang pragmatis.
Sebenarnya, agama Islam memiliki tujuan yang lebih komprehensif dan integratif dibanding dengan sistem pendidikan sekular yang semata-mata menghasilkan para anak didik yang memiliki paradigma yang pragmatis.
Tujuan utama pendidikan dalam Islam adalah mencari ridha Allah swt. Dengan pendidikan, diharapkan akan lahir individu-indidivu yang baik, bermoral, berkualitas, sehingga bermanfaat kepada dirinya, keluarganya, masyarakatnya, negaranya dan ummat manusia secara keseluruhan. Disebabkan manusia merupakan fokus utama pendidikan, maka seyogianyalah institusi-institusi pendidikan memfokuskan kepada substansi kemanusiaan, membuat sistem yang mendukung kepada terbentuknya manusia yang baik, yang menjadi tujuan utama dalam pendidikan. Dalam pandangan Islam, manusia bukan saja terdiri dari komponen fisik dan materi, namun terdiri juga dari spiritual dan jiwa.
Oleh sebab itu, sebuah institusi pendidikan bukan saja memproduksi anak didik yang akan memiliki kemakmuran materi, namun juga yang lebih penting adalah melahirkan individu-individu yang memiliki diri yang baik sehingga mereka akan menjadi manusia yang serta bermanfaat bagi ummat dan mereka mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Institusi pendidikan perlu mengarahkan anak didik supaya mendisiplinkan akal dan jiwanya, memiliki akal yang pintar dan sifat-sifat dan jiwa yang baik, melaksanakan perbuatan-perbuatan yang baik dan benar, memiliki pengetahuan yang luas, yang akan menjaganya dari kesalahan-kesalahan, serta memiliki hikmah dan keadilan.
Oleh sebab itu juga, ilmu pengetahuan yang diajarkan dalam institusi pendidikan seyogianya dibangun di atas Wahyu yang membimbing kehidupan manusia. Kurikulum yang ada perlu mencerminkan memiliki integritas ilmu dan amal, fikr dan zikr, akal dan hati. Pandangan hidup Islam perlu menjadi paradigma anak didik dalam memandang kehidupan.

D. Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia
Akhir-akhir ini pendidikan Islam di Indonesia semakin menarik dan semakin luas dibicarakan. Hal ini mungkin karena terkait dengan peristiwa-peristiwa terorisme yang dicitrakan keislaman. Akan tetapi, terdapat berbagai argumen mengapa pendidikan islam harus didiskusikan.
Pertama bahwa pendidikan Islam menyatu dengan masyarakat. Islam dan umat islam tidak akan berkembang dengan baik tanpa ada pendidikan islam. Sedangkan Islam merupakan agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia.
Kedua, pendidikan Islam di Indonesia telah melewati perjalanan panjang.
Ketiga, Indonesia bukan hanya Negara muslim terbesar, melainkan juga memiliki paling banyak lembaga pendidikan islam
Keempat, banyak ilmuan Indonesia pernah belajar di lembaga pendidikan Islam, seperti Idham Khalid, Agus Salim, Hamka, Ahmad Rasyidi, A. Mukti Ali dan banyak lagi yang lainnya.
Kelima, lembaga ini telah banyak melahirkan tokoh nasional, seperrti Muh. Natsir, Cokro Aminoto, Abdurahman Wahid dan banyak lagi yang lainnya
Karena hal-hal tersebut, maka wajar jika pendidikan Islam di Indonesia menimbulkan penasaran bagi banyak pihak.
Menurut A. Mukti Ali reformasi pondok pesantren difokuskan pada sistem pendidikan dan pengajaran dengan argument :
1. Di pondok pesantren terdapat madrasah
2. Tolok ukur baik atau tidaknya pondok pesantren terletak pada seberapa jauh dapat menunjang pembangunan Nasional
3. Pondok pesantren, pada umumnya, berada di luar kota atau di desa-desa dan sebagian besar santri adalah anak-anak petani dan nelayan
4. Pondok pesantren mempunyai jasa yang besar dalam kebangkitan nasional dan dalam mempertahankan Negara Republik Indonesia
5. Merupakan tempat pendidikan yang paling utama dalam menanamkan dan menyiarkan ajaran Islam di kalangan masyarakat Indonesia.

Sasaran yang akan diperbaharui adalah pertama mental mau dibangun diganti dengan mental membangun, yang memiliki ciri-ciri :
1. Sikap terbuka, kritis, dan suka meneliti
2. Melihat ke depan
3. Teliti dalam bekerja
4. Mempunyai inisiatif dalam menggunakan metode-metode baru untuk berbuat sesuatu sekalipun anggota masyarakat lainnya belum atau tidak mempergunakannya
5. Lebih sabar dan tahan bekerja
6. Bersedia bekerja sama dengan lembaga-lembaga lain. Kedua, reformasi kurikulum pondok pesantren, dan ketiga, pengajaran dan pendidikan yang berhubungan dengan ketrampilan kerja.

Reformasi pondok pesantren diarahkan untuk jangka pendek supaya dapat mencukupi tenaga kerja tingkat rendah dan menengah, dan untuk jangka panjang, supaya dapat ikut aktif dalam pembangunan untuk menciptakan masyarakat adil makmur lahir batin.
Untuk menghadapi dan membangun masyarakat madani di Indonesia diperlukan usaha pembaruan pendidikan Islam secara mendasar, yaitu :
1. Perlu pemikiran kembali konsep pendidikan Islam yang betul-betul didasarkan pada asumsi dasar tentang manusia, terutama pada fitrah atau potensi,
2. Pendidikan Islam harus menuju pada integritas antara ilmu agama dan ilmu umum untuk tidak melahirkan jurang pemisah antara ilmu agama dan ilmu bukan agama, karena dalam pandangan Islam bahwa Ilmu pengetahuan adalah satu yaitu berasal dari Allah SWT,
3. Pendidikan di desain menuju tercapainya sikap dan perilaku “toleransi”, lapang dada dalam berbagai hal dan bidang, terutama toleran dalam perbedaan pendapat dan penafsiran ajaran Islam tanpa melepaskan pendapat atau prinsipnya yang diyakini,
4. Pendidikan yang mampu menumbuhkan kemampuan untuk berswadaya dan mandiri dalam kehidupan,
5. Pendidikan yang menumbuhkan etos kerja, mempunyai aspirasi pada kerja, disiplin dan jujur,
6. Pendidikan Islam perlu di desain untuk mampu menjawab tantangan masyarakat untuk menuju masyarakat madani serta lentur terhadap perubahan zaman dan masyarakat.

E. Gontor, Pembaharu Pendidikan Islam di Indonesia
Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Ponorogo Jawa Timur merupakan salah satu lembaga pendidikan di Indonesia yang melakukan pembaharuan pendidikan islam di Indonesia. Berdiri pada tahun 1926 yang didirikan oleh KH. Ahmad Sahal, KH. Zainudin Fananie dan KH. Imam Zarkasy, yang dikenal dengan sebutan “trimurti”. Salah satu yang paling berperan dalam bembaharuan pendidikan islam di PMDG yaitu KH. Imam Zarkasyi.
K.H. Imam Zarkasyi lahir di desa Gontor, Jawa Timur pada tanggal 21 Maret 1910 M. Belum genap usia beliau 16 tahun, Imam Zarkasyi muda mula-mula menimba ilmu di beberapa pesantren yang ada di daerah kelahirannya, seperti pesantren Josari, pesantren Jorensan dan pesantren Tegal sari. Setelah menyelesaikan studi di Sekolah Ongkoloro (1925), beliau melanjutkan studinya di Pondok Pesantren Jamsarem, Solo. Pada waktu yang sama beliau juga belajar di Sekolah Mamba’ul Ulum. Kemudian masih di kota yang sama ia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Arabiyah Adabiyah yang dipimpin oleh K.H. M. O. Al-Hisyami, sampai tahun 1930. Selama belajar di sekolah-sekolah tersebut (terutama Sekolah Arabiyah Adabiyah) beliau sangat tertarik dan kemudian mendalami pelajaran bahasa Arab.
Sewaktu belajar di Solo, guru yang paling banyak mengisi dan mengarahkan Imam Zarkasyi adalah al-Hasyimi, seorang ulama, tokoh politik dan sekaligus sastrawan dari Tunisia yang diasingkan oleh Pemerintah Perancis di wilayah penjajahan Belanda, dan akhirnya menetap di Solo.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Solo, Imam Zarkasyi meneruskan studinya ke Kweekschool di Padang Panjang, Sumatera Barat, sampai tahun 1935.
Setelah tamat belajar di Kweekschool, beliau diminta menjadi direktur Perguruan tersebut oleh gurunya, Mahmud Yunus. Tetapi Imam Zarkasyi hanya dapat memenuhi permintaan dan kepercayaan tersebut selama satu tahun (tahun 1936), dengan pertimbangan meskipun jabatan itu cukup tinggi, tetapi ia merasa bahwa jabatan tersebut bukanlah tujuan utamanya setelah menuntut ilmu di tempat itu. Imam Zarkasyi yang dinilai oleh Mahmud Yunus memiliki bakat yang menonjol dalam bidang pendidikan, namun ia melihat bahwa Gontor lebih memerlukan kehadirannya. Di samping itu, kakaknya Ahmad Sahal yang tengah bekerja keras mengembangkan pendidikan di Gontor tidak mengizinkan Imam Zarkasyi berlama-lama berada di luar lingkungan pendidikan Gontor.
Setelah menyerahkan jabatannya sebagai direktur Pendidikan Kweekschool kepada Mahmud Yunus, Imam Zarkasyi kembali ke Gontor. Pada tahun 1936 itu juga, genap sepuluh tahun setelah dinyatakannya Gontor sebagai lembaga pendidikan dengan gaya baru, Imam Zarkasyi segera memperkenalkan program pendidikan baru yang diberi nama Kulliyatu-l Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) dan ia sendiri bertindak sebagai direkturnya.
Selanjutnya pada tahun 1943 beliau diminta untuk menjadi kepala Kantor Agama Karesidenan Madiun. Pada masa pendudukan Jepang, beliau pernah aktif membina dan menjadi dosen di barisan Hizbullah di Cibarusa, Jawa Barat. Setelah Indonesia merdeka, Imam Zarkasyi juga aktif dalam membina Departemen Agama R.I. khususnya Direktorat Pendidikan Agama yang pada waktu itu menterinya adalah Prof.Dr.H.M.Rasyidi. Tenaga dan pikirannya juga banyak dibutuhkan di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ketika Ki Hajar Dewantoro menjabat sebagai menterinya.
Jabatan-jabatan penting lainnya yang diduduki Imam Zarkasyi di tengah kesibukannya sebagai pendidik di Lembaga Pendidikan Gontor adalah sebagai Kepala Seksi Pendidikan Kementerian Agama dari anggota Komite Penelitian Pendidikan pada tahun 1946. Selanjutnya selama 8 tahun (1948-1955) ia dipercaya sebagai Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Islam Indonesia (PGII) yang sekretarisnya waktu itu dipegang oleh K.H.E.Z. Muttaqin. dan selanjutnya beliau menjadi penasehat tetapnya.
Imam Zarkasyi juga pernah menjabat sebagai Kepala Bagian Perencanaan Pendidikan Agama pada Sekolah Dasar Kementerian Agama (1951-1953), Kepala Dewan Pengawas Pendidikan Agama (1953), Ketua Majelis Pertimbangan Pendidikan dan Pengajaran Agama (MP3A) Departemen Agama, Anggota Badan Perencana Peraturan Pokok Pendidikan Swasta Kementerian Pendidikan (1957). Selain itu pada tahun 1959, Imam Zarkasyi diangkat menjadi Anggota Dewan Perancang Nasional oleh Presiden Soekarno.
Dalam percaturan internasional, Imam Zarkasyi pernah menjadi anggota delegasi Indonesia dalam peninjauan ke negara-negara Uni Soviet, pada tahun 1962. Sepuluh tahun kemudian, ia juga mewakili Indonesia dalam Mu’tamar Majma’ Al-Bunuth al-Islamiyah (Mu’tamar Akademisi Islam se-Dunia), ke-7 yang berlangsung di Kairo. Di samping itu, ia juga menjadi Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat.
Pada tanggal 30 April 1985 pukul 21.00 WIB beliau meninggal dunia di Rimah Sakit Umum madiun.beliau meninggalkan seorang istri dan 11 orang putra-putri.
Selain dikenal sebagai aktivis dalam bidang pendidikan, sosial dan politik kenegaraan, Imam Zarkasyi juga ternyata seorang ulama yang produktif dalam bidang tulis-menulis. Dalam kaitan ini, beliau banyak sekali meninggalkan karya ilmiah yang hingga saat ini masih dapat dinikmati. Ini sesuai dengan niatan beliau pada awwal dibukanya KMI tahun 1936, beliau berkata: “seandainya saya tidak berhasil mengajar dengan cara ini, saya akan mengajar dengan pena.”
Di antara karya tulis Imam Zarkasyi adalah Senjata Penganjur dan Pemimpin Islam, Pedoman Pendidikan Modern, Kursus Agama Islam. Ketiga buku tersebut ditulis bersama K.H. Zainuddin Fannani. Selanjutnya ia menulis Ushuluddin (pelajaran Aqo’id atau Keimanan), Pelajaran Fiqih I dan II, Pelajaran Tajwid, Bimbingan Keimanan, Qowaidul imla’, Pelajaran Bahasa Arab I dan II berikut kamusnya, Tamrinat I, II dan III, beserta kamusnya dan buku-buku pelajaran lainnya.
K.H. Imam Zarkasyi bersama pendiri Pondok Gontor lainnya telah mengkaji lembaga-lembaga pendidikan yang terkenal dan maju di luar negeri, khususnya yang sesuai dengan sistem pondok pesantren. Ada empat lembaga pendidikan yang mereka kaji dalam rangka studi banding yang kemudian dikenal sebagai “Sintesa Pondok Modern”.
Pertama, Universitas Al-Azhar di Mesir, merupakakan sebuah lembaga pendidikan swasta, dengan kekayaan wakafnya yang luarbiasa, mampu bertahan bahkan berperan dalam apapun dalam perubahan waktu dan massa. Al-Azhar ini bermula dari sebuah masjid sederhana namun kemudian dapat hidup ratusan tahun dan telah memiliki tanah wakaf yang mampu memberi beasiswa untuk mahasiswa seluruh dunia. Kedua, Pondok Syanggit di Afrika Utara, dekat Libya. Lembaga ini dikenal karena kedermawanan dam keikhlasan pengasuhnya. Pondok ini dikelola dengan jiwa ikhlas dari pengasuhnya di samping mendidik murid-muridnya, juga menanggung kebutuhan hidup sehari-hari mereka. Ketiga, Universitas Muslim Aligarh yang membekali mahasiswanya dengan pengetahuan umum dan agama sehingga mereka mempunyai wawasan yang luas dan menjadi pelopor kebangkitan Islam di India. Universitas ini dikenal sebagai pelopor pendidikan modern dan revival of Islam. Keempat, masih juga di India, yaitu Perguruan Shantiniketan yang didirikan oleh seorang filosof Hindu, Rabendranath Tagore. Perguruan ini terkenal karena kedamaiannya, dan meskipun terletak jauh dari keramaian, tetapi dapat melaksanakan pendidikan dengan baik dan bahkan dapat mempengaruhi dunia. Kedamaian di perguruan tersebut mengilhami Darussalam (kampung damai) untuk Pondok Pesantren Darussalam Gontor.
Keempat lembaga pendidikan yang dikaji itu selanjutnya menjadi idaman Imam Zarkasyi dan lembaga pendidikan yang hendak ia bangun adalah pondok pesantren yang merupakan per paduan atau sintesa dari Keempat unsur di atas. Semua dipadukan dalam pandangan agama yang tergolong mazhab Ahlussunah waljama’ah yang mayoritas dianut umat Islam di Indonesia.
Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) merupakan lembaga pendidikan yang memadukan antara pendidikan Islam dan pendidikan umum. Selain itu pula gontor mempunyai kurikulum tersendiri (tidak mengikuti pemerintah) akan tetapi eksistensinya sudah diakui oleh pemerintah, bukan hanya oleh Indonesia melainkan juga oleh luar negeri.
Perkembangan teknologi pun tidak kalah dengan lembaga pendidikan lainnya. Maka, Gontor setiap tahunnya selalu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan kemajuan zaman.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dari uraian di atas maka dapat disimpulakan bahwa urgensi pembaharuan pendidikan di atas antara lain sebagai berikut :
1. Untuk menghadirkan suatu ide pemikiran yang sebelumnya telah ada untuk diperbaiki dan disempurnakan
2. Upaya memordernisasikan pendidikan islam dari dari ketinggalan menuju kemajuan dengan tidak meninggalkan ajaran-ajaran keislaman yang murni
3. Meningkatkan kemampuan akademik dan profesionalisme serta meningkatkan jaminan kesejahteraan tenaga kependidikan sehingga tenaga pendidik mampu berfungsi secara optimal, terutama dalam peningkatan pendidikan islam
4. Menghasilkan output yang berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional
5. Mencapai Tujuan Pendidikan Islam

DAFTAR PUSTAKA

Tafsir, Ahmad, 2000, ilmu pendidikan dalam perspektif islam, Jakarta : PT. Remaja Rosdakarya
Sutrisno, 2011, pembaharuan dan pengembangan pendidikan islam, Yogyakarta : Fadhilatama
Nata, Abuddin, 2000, pemikiran para tokoh pendidikan islam, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Syafe’i Makhmud, 2008, perkembangan modern dunia islam. Bandung : Yasindo Multi Aspek.2008
Warta Dunia Pondok Modern Darussalam Gontor, 2006.
http://insistnet.com/index.php?option=com_content&view=article&id=31:tujuan-pendidikan-dalam-islam&catid=8:adnin-armas, diakses terakhir pada tanggal 21 Mei 2012
http://punyahari.blogspot.com/2009/09/pembaharuan-pendidikan-islam.html, diakses terakhir pada tanggal 20 Maret 2012
http://www.scribd.com/doc/39958987/Pengertian-Pembaharuan-Islam, diakses terakhir pada tanggal 20 Maret 2012

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s